Usai Anjlok 4 Hari, Harga Emas Bangkit

By Editor - SmartEnergi.id

SmartEnergi, Chicago - Harga emas menguat  didorong beberapa aksi buru harga murah pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Sebelumnya, harga emas anjlok selama empat hari berturut-turut hingga berada di bawah USD 1.800, sebagian dipicu juga oleh data ekonomi agak suram dan dolar yang lebih rendah.

Dilansir dari Reuters, Jumat (19/2/2021), kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, naik USD 2,2  atau 0,12 persen menjadi USD 1.775 per ounce. 

Data ekonomi AS baru-baru ini, termasuk angka manufaktur dari Federal Reserve New York sangat kuat dan menunjukkan "banyak hal mulai pulih dari kemerosotan Virus Corona," kata Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn.

Namun data ekonomi terpisah dari Federal Reserve Philadelphia menempatkan indeks manufaktur pada 23,1 pada Februari, turun dari 26,5 pada Januari.

Beberapa aksi berburu harga murah, mengingat penurunan harga emas di bawah USD 1.800 dan dolar AS yang lebih rendah, juga mendorong kenaikan awal emas dari posisi terendah baru-baru ini, kata Haberkorn.

Selain itu memberikan dorongan untuk harga emas, Federal Reserve AS pada Rabu (17/2/2021) menegaskan kembali janjinya untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai inflasi dan lapangan kerja meningkat.

Reaksi emas terhadap peningkatan tak terduga dalam klaim pengangguran mingguan pada Kamis (18/2/2021) juga relatif teredam, karena imbal hasil obligasi AS naik di tengah tanda-tanda kenaikan ekonomi.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (18/2/2021) melaporkan bahwa 861.000 orang mengajukan klaim pengangguran awal dalam pekan yang berakhir 13 Februari, tertinggi dalam empat minggu.

Departemen Perdagangan AS melaporkan pembangunan rumah baru turun ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 1,58 juta pada Januari, turun 6,0 persen dari angka yang direvisi pada Desember 2020.

Imbal hasil yang lebih tinggi telah mengikis daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi akhir-akhir ini, karena meningkatkan peluang kerugian untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Emas mengalami kesulitan untuk mencoba memenangkan investor sebagai lindung nilai inflasi, karena aset lain lebih disukai, kata Analis Pasar FXTM, Han Tan.