Jadi Mitra Binaan Pertamina, Batik Cirebon Kian Mendunia

SmartEnergi, Jakarta - Indonesia memiliki potensi melimpah baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kebudayaannya. Melihat potensi ini Pertamina melalui Program Kemitraan, berupaya terus mendampingi UMKM produk budaya terus berkembang. Salah satunya, Efi Utayati pemilik Adifta Batik, produsen batik khas Cirebon yang kini sudah mampu memasarkan batiknya ke mancanegara.  

Efi bercerita, bila dulunya dia hanya menjual produknya di Tanah Abang, kini telah meluas menembus mancanegara.

Efi bercerita, bergabung menjadi mitra binaan Pertamina, menjadikannya memiliki kesempatan ikut pameran di luar negeri. “Pada tahun 2018 lalu dapat kesempatan pameran pada ajang Indonesia Festival di Bangladesh. Dari sekitar 2 koper besar kain batik yang dibawa, di sana laku keras dan menyisakan 2 helai saja dibawa pulang,” ceritanya.

Tak hanya itu, Adifta Batik juga mendapat pelatihan dari Pertamina, terutama terkait pemasaran produk. Mulai dari pelatihan ekspor impor sampai teknik pemasaran digital. Efeknya sangat membanggakan , produk-produk Adifta Batik kian dikenal dalam lingkup yang lebih besar. “Setelah diikutkan pameran di dalam dan luar negeri oleh Pertamina ya alhamdulillah sekarang pemasarannya lebih luas,” tutur Efi.

Cerita lama di mana Efi harus menawarkan produk batiknya dari toko ke toko di Tanah Abang pun kini berubah. Saat ini pemasarannya pun tidak sebatas hanya di Tanah Abang maupun dalam negeri, melainkan sudah menjangkau beberapa negara di dunia. Seperti Belanda, Singapura, Malaysia, Jepang, Qatar, China, dan beberapa negara Asia lainnya.

Pemasaran di luar negeri ini juga menjadi salah satu upaya Efi untuk melestarikan warisan budaya batik hingga ke mancanegara,  utamanya batik khas Cirebon dengan motif Mega Mendung, Taman Teratai, Mataharian dan motif khas lainnya.

 Berkat ketekunan usaha yang dilakoni serta dukungan dari Pertamina, Efi mampu meningkatkan pendapatannya berkali lipat. Ia mengaku, sebelum menjadi binaan Pertamina, omzet usahanya sebesar Rp 15 juta per bulan. Namun setelah menjadi binaan Pertamina, omzet per bulannya kini naik hingga 3 kali lipat.

Dengan peningkatan itu, ia imbangi dengan penambahan jumlah pekerja. Dari semula hanya beberapa orang saja, kini sudah ada sekitar 15 karyawan yang senantiasa membantu usahanya. Hal ini menjadi salah satu penerapan ESG dibidang sosial, sebab para pekerja tersebut merupakan tetangga sekitar rumahnya di Desa Kalitengah, Blok Kebagusan, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon yang membutuhkan pekerjaan.

Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan menambahkan, Pertamina akan terus mendukung pengembangan produk-produk kebudayaan lokal agar bisa mendunia. Apalagi batik sendiri kini sudah menjadi warisan budaya dunia.

“Semua ini harus kita jaga dengan cara melestarikan perajin batik dan membantu mereka agar tetap bertahan dan berkembang salah satunya untuk mengimplementasikan SDGs point 8,” tutupnya.